Home Arsip Email Bukutamu Komentar Galeri Ad-Info Profil Statistik
    Wartawan Fajar tidak diperkenankan menerima imbalan dalam bentuk apapun pada setiap kegiatan peliputan  -  Belasan sopir pete-pete jurusan SMA 5 kode I berunjuk rasa di DPRD Makassar. Mereka menuntut pemerintah kembali menaikkan tarif sewa dari Rp2300 menjadi Rp2700 per penumpang.  -  Kasus dugaan kredit fiktif yang melibatkan ratusan debitur tidak berpengaruh terhadap arus pencairan kredit BNI.  -  Aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM kembali digelar sejumlah elemen mahasiswa hari ini, Kamis (5/6).   -  
  

» search
  
 
  Google Fajar

» headline
Ilham Risau, Disdik Salah Rekap
MAKASSAR -- Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin, risau dengan tingginya persentase ketidaklulusan ujian nasional siswa SMA dan sederajat. Tahun ini, Makassar di posisi paling buncit dengan tingkat ketidaklulusan mencapai 16 persen.
Petani Sayur Organik Bidik Pasar Modern
MAKASSAR - Petani palawija yang mengembangkan sayur organik di Kecamatan Camba, Maros, mulai melirik pasar hypermarket untuk memasarkan hasil pertaniannya. Pemasaran sayuran tanpa pestisida itu mendapat dukungan mediasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel.
Nasib Hanafing Belum Jelas
MAKASSAR -- Berakhirnya kompetisi Djarum Indonesia Super League (DISL) membuat status arsitek tim Hanafing pun berakhir. Hanafing membutuhkan perpanjangn kontrak jika ingin meneruskan status sebagai pelatih Pasukan Ramang.

Optimis Terapkan Metode Laskar Pelangi in Actions
(23 Apr 2008, 174 x , Komentar)

Oleh: Andrea Hirata Penulis Buku Laskar Pelangi

Curat marut dunia pendidikan di Indonesia menggerakkan nalurinya untuk bertindak. Rasa kepedulian yang tinggi telah membawa Andrea Hirata menciptakan suatu konsep baru dalam hal pendidikan.
Tidak salah jika Laskar pelangi menjadi booming dalam sekejap lantaran banyaknya bengkalai pada dunia pendidikan. Seperti apa metode yang diciptakan lajang kelahiran pulau Belitong, propinsi Bangka Belitung ini?

Bagaimana proses konsep tersebut dijalankan? Lalu Sejauh mana keberhasilan konsep yang akan ditawarkannya? Kepada wartawan Harian Fajar, Abdul Rahman, pengarang karya monumental tetralogi Laskar Pelangi ini menuturkannya di SMA Athirah Bukit Baruga Antang, Selasa 22 April. Berikut Pertikannya.

Di dalam karya monumental anda, ide yang banyak diperbincangkan orang adalah sorotan terhadap dunia pendidikan. Sebenarnya, bagaimana perspektif anda tentang kondisi pendidikan di Indonesia?

Sebelumnya, saya ingin berterimakasih atas sambutan hangat warga Makassar kepada saya hari ini (kemarin. red). Saya sudah menduga jika kedatangan saya untuk sharing dan berdiskusi akan mendapat apresiasi positif dari warga di daerah ini.

Menjawab pertanyaan anda, saya kira yang menjadi hal terpenting adalah integritas. Saya kira inilah yang paling urgen, pengajar dan murid atau siswa harus mempunyai integritas.

Maksud Anda?

Jadi, sebenarnya saya tidak keberatan apabila pendidikan itu menjadi komersial. Ini hal yang berbeda karena jika komersialisasi itu untuk kebaikan pendidikan, itu tidak apa-apa. Apalagi banyak orang yang bisa membayar untuk mendapatkan fasilitas yang baik dalam menuntut pendidikan.

Nah, biasanya jika sekolah dengan pembayaran yang mahal maka fasilitas juga bagus. Sekolah itu tidak harus marginal. Mentalitas itu tidak bisa dibentuk dengan badan yang marginal dan kehidupan yang susah.

Bisa Anda berikan Contohnya?

Biasanya ada anggapan bahwa orang bisa sukses karena hidupnya penuh dengan perjuangan dan kesusahan. Saya kira itu pendapat yang keliru. Jika anda kaya silahkan hidup jadi orang kaya.

Yakinlah bahwa anda juga bisa sukses. Silahkan tuntut pendidikan sesuai dengan kemampuan tersebut. Pendapat itu saya kira malah membunuh peluang bagi anak-anak kaya untuk bisa sukses. Banyak orang miskin yang sukses. Banyak orang kaya yang sukses.

Orang miskin yang gagal malah lebih banyak, meski telah berjuang berjibaku mati-matian, begitu pula dengan orang kaya. Jadi menurut saya tidak ada hubungan antara kekayaan dan kemiskinan. Yang berhubungan adalah integritas, eksis, dan metalitas orang. Itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya.

Nah, bagaimana pendapat anda tentang jargon-jargon pendidikan gratis?

Hati-hati dengan pendapat tersebut karena sudah pernah dicoba di sebuah sekolah. Dulu ketika biaya sekolah ada prestasi yang ada pada siswa sangat bagus. Namun, setelah kebijakan berubah menjadi pendidikan gratis prestasi malah anjlok.

Alasannya, lantaran semua fasilitas pendidikan diberikan secara gratis sehingga mereka seenaknya saja. Mereka merasa tidak berkorban. Ingat masalah pendidikan tidak sederhana. Ini adalah masalah yang kompleks.

Jika melirik persoalan ini lebih jauh, sebenarnya apa yang menjadi konsep utama Anda dalam karya Laskar Pelangi untuk diwujudkan sebagai bentuk perhatian kepada dunia pendidikan?

Nah, saya punya model pendidikan yang disebut Laskar Pelangi in Actions. Ini adalah model pendidikan inisiatif. Jadi, orang-orang dalam komunitas sosial masing-masing berinisiatif saja. Membuat cluster-cluster tanpa harus menunggu pemerintah.

Saya kira banyak orang cerdas di negeri ini apalagi ia tamatan luar negeri. Mereka punya waktu hari Sabtu-Minggu yang bisa dimanfaatkan untuk membuka sekolah gratis. Dan itu sudah saya mulai dari sekarang dengan memberikan pelajar matematika, fisika, kimia, bahasa asing, dan beberapa mata pelajaran lainnya.

Bagaimana sambutan masyarakat tentang ide tersebut?

Sudah dua kali kami melakukan hal tersebut. Alhamdulillah reaksi dan tanggapan masyarakat secara luas sangat apresiatif. Karena dari awal saya percaya bahwa pelajaran itu dibentuk dilihat dari segi pola pendekatannya. Misalkan, ada seorang anak yang sangat pintar di suatu sekolah.

Namun, karena ada guru yang tidak cocok dengan gurunya, membuat anak tersebut tidak dapat mengembangkan diri. Kelas yang saya buka ini memberikan guru-guru baru, pendekatan baru dan metode pelajaran yang baru, sehingga ada nuansa yang berbeda dirasakan oleh siswa ketimbang belajar di sekolahnya.

Bisa diurai secara singkat konsep Laskar Pelangi in Actions itu?

Jadi ini sudah dua kali kami lakukan. Yang pertama lakukan dalam bentuk triout yang kami biayai sendiri. Konsep ini bukan tindakan instan dan spontan. Tapi merupakan tindakan yang memutuhkan proses. Kami menggunakan 30 orang anak yang kami uji secara ketat dengan penilaian yang ketat pula.

Nah, dari jumlah tersebut hanya satu orang yang bisa lulus. Usai itu, kita panggilkan psikolog yang melakukan pengujian untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan mereka. Setelah semua lengkap, mereka lalu dibuatkan kelas. Kelas tersebut disiapkan untuk pendidikan mereka selama sepekan.

Di luar jam sekolah mereka kisa sisihkan beberapa jam setiap hari secara intensif untuk mata pelajaran tertentu. Gurunya, bisa anda bayangkan kami datangkan dari universitas terkenal seperti ITB dan UI dan kami tanggung semua kebutuhannya selama mengajar.

Model ini kami terapkan tanpa memungut pembayaran. Rencananya, menjelang ujian masuk perguruan tinggi nanti metode tersebut akan kami lakukan lagi.

Model pembelajarannya?

Yang pasti tetap menggunakan metode klasikal. Ada murid ada guru. Hanya bedanya adalah dalam satu kelas kami lengkapi dengan alat-alat teknologi canggih dengan akses internet yang full dan alat-alat peraga yang lebih santai dan interaktif. Dalam satu pekan untuk satu mata pelajaran saya perkirakan menghabiskan waktu 50 jam.

Ini menarik, Anda menguji 30 anak yang hanya lulus satu orang. Dari hasil tes psikologi, apa kecenderungan yang anda temukan pada dini anak tersebut?

Kasus yang kami dapatkan terjawab setelah uji psikologi. Hasilnya adalah ternyata anak-akan itu bukannya tidak pintar. Intelektualitasnya lumayan, namun mereka ternyata mempunyai problem dalam kepercayaan diri. Potensinya bagus tapi memang tidak percaya diri.

Apa target Anda dari metode ini?

Jauh sebelum konsep ini dibuat, kami telah menimbang-nimbang hasil yang kami akan capai. Paling tidak dari 30 orang tadi ada lima orang yang memiliki kapasitas intelektualitas yang memadai, jadi kami tidak muluk-muluk.

Selain itu, karena kami juga memasukkan materi motivasi sehingga kami harapkan lulusan dari metode ini dapat mengasah kepercayaan dirinya untuk bisa berkembang menuju kesuksesan.

Pertanyaan terkahir, Laskar Pelangi rencananya akan difilmkan. Secara resmi kapan film itu dilaunchingkan?

Resminya tanggal 25 Mei bersamaan dengan peluncuran buku keempat Maryamah Karov. Film itu disutradarai oleh orang Sulsel asli Enrekang yaitu Riri Reza dengan produser Mira Lesmana. Saya lihat ada definisi baru dalam film itu karena ada warna yang ditawarkan oleh sutradanya.

Sangat jelas ada perbedaan dengan memunculkan pengembangan-pengembangan dan angle-angle baru dari pada buku yang saya tulis. Akan tetapi secara esensi tidak bergeser dari esensi yangsesungguhnya. Saya optimis film ini akan menjadi film yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. (parsiabdi@yahoo.co.id)



  Tambah Komentar
Nama  
Email  
Lokasi  
Komentar
Tulis ulang kode disamping

Ekonomi Bisnis Teknologi Informasi
Produksi Minyak 970 Ribu BPH
Petani Sayur Organik Bidik Pasar Modern
Sahid Klaim Rebut 30 Persen Pasar Hotel
Didukung Bluetooth Speakerphone
Turunkan Cover, Gambar Bisa Direkam
Intertainer Paling Dasyat
Internasional Nasional
Sultan Sakit, Istana Kelantan Sepi
Prahara Manohara Tak Seheboh Siti Hajar
29 Bocah Tewas di Tempat Penitipan Anak
Pengumuman UN SMK Bermasalah
Makassar Terpuruk, Wajo Terbaik
2010, Gaji Guru Naik 100 Persen
Lawan Korupsi Politika
BPKP Periksa Kadis Sosial Luwu
Germak Beberkan Isu Suap di Kejati
BAP Ali Palembang Belum Dilimpahkan
Tiga Anggota KPU Dipecat, Tiga Nonaktif
PDK Bentuk Tim Sukses Hingga Kecamatan
Tim Mega Patungan Buat Baliho
Menakar Kredibilitas Capres
Oleh: Andi Haris (Dosen Sosiologi Politik Universitas Hasanuddin)

Pemilihan presiden (pilpres) akan dilaksanakan dalam beberapa waktu ke depan. Tiga calon yang bakal menduduki sebagai posisi nomor satu di republik ini, sama-sama telah menebar berbagai janji dan programnya. Bukan cuma itu, berbagai spekulasi politikpun bermunculan terutama yang dirilis melalui media massa.
Dari Pengurangan Gaji hingga Outsourcing Percetakan
Catatan: Sukriansyah S Latief

Runtuhnya Kejayaan Media Cetak di Amerika Serikat (2-Selesai)

BERBAGAI cara dilakukan media cetak di Amerika untuk bisa tetap bertahan di masa sulit ini.
Meredam Perselisihan Geng Sekolah
HAMPIR setiap sekolah di Kota Daeng tercinta yang sangat terkenal dengan Coto Makassarnya ini memiliki gang sekolah. Yups, apalagi kalau bukan suatu komunitas yang mengatasnamakan dasar dari solidaritas antar teman. Maybe salah satu dari mereka adalah geng kamu sendiri.

» rubrik
Metro   
Sportif   
Keker   

» wawancara
Ajak Capres Berkompetisi Secara Sehat
Oleh: Sekretaris Tim Kamda SBY-Boediono di Sulsel, Haidar Majid

PILPRES semakin dekat. Tim pemenangan masing-masing paket pun semakin menggencarkan aksi penggalangan dukungannya. Tak terkecuali tim SBY-Boediono.

Ingin Berlangganan
HUB: SIRKULASI
Telp: 0411-440222

Fajar Online
Jl. Racing Centre No. 101
Makassar-Indonesia

Phone:
0411-441441

Fax:
0411-441224 (umum)
441225 (redaksi)
440234 (iklan)
Email:
redaksi@fajar.co.id


Home Arsip Email Iklan Baris Bukutamu Komentar Galeri Ad-Info Profil Statistik