Korban Dihabisi Tetangga
(25 Aug 2008, 176 x , Komentar)
Pembunuhan Ibu Anak
MAKASSAR – Polisi hanya butuh waktu 24 jam untuk menemukan pembunuh janda ibu-anak, Hj Yulin Kamu, 63, dan Salma, 38.Kedua warga Jl Maccini Kidul No 5 RW/01 RT/06 Kelurahan Maccini Kecamatan Makassar itu ternyata dihabisi oleh tetangganya sendiri, Steven, 19. Kediaman Steven bahkan hanya berjarak satu rumah dengan korban.
Steven diamankan di depan rumahnya, sekira pukul 16.30 WITA, Minggu, 24 Agustus. Dia ditangkap tanpa perlawanan sesaat setelah kembali dari rumah temannya di Jl Damai No 6, Kelurahan Karuwisi Kecamatan Panakkukang.
Bagaimana bisa terungkap? Keterlibatan pelaku dalam pembunuhan itu ternyata sudah dicium petugas kepolisian gabungan dari Polresta Makassar Barat, Polresta Makassar Timur, Polwiltabes Makassar dan Polda Sulsel. Itu diketahui dari hasil pelacakan sinyal handphone (HP) korban yang hilang dari Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Melalui bantuan teknologi provider yang dimiliki Polresta Makassar Timur dipimpin Kanit Resmob, Iptu Sugeng, diketahui bahwa HP yang hilang berada di sekitar Jl Damai Kelurahan Karuwisi Kecamatan Panakkukang. Usut punya usut, HP itu berada di rumah milik orangtua Syamsuddin, 16. Di rumah itu sempat datang Steven yang merupakan teman sepermainan Syamsuddin.
Setelah ditelusuri, Steven merupakan salah seorang tetangga yang tidak berada di rumahnya saat kejadian. Belum lagi, pria putus sekolah itu dikenal kerap berurusan dengan kepolisian.
Polisi pun melakukan penyelidikan di kediaman Steven. Hasilnya, di kamar mandi ditemukan bajo kaos putih dan celana jeans yang pada beberapa bagian terdapat bercak darah.
Hal sama ditemukan polisi di rumah Anca, teman Steven lainnya di RW 1. Di sini malah polisi juga menemukan pisau yang diduga digunakan menghabisi korban. Saat penggeledahan, Anca sedang tidak di rumah.
Dugaan keterlibatan Steven makin diperkuat oleh keterangan salah seorang warga, H Mansyur, 29. Ayah tiga anak yang tinggal di Jalan Maccini Kidul No 17 itu mengaku sempat melihat Steven melintas dari rumah korban Minggu dini hari.
Menurut Mansyur, dia melihat Steven melintas sekira pukul 03.00 WITA. Saat itu, Mansyur terbangun karena anak bungsunya yang masih bayi, terus menangis. “Kemudian saya meminta istri untuk memberikan susu kepada anak saya. Sementara itu, saya keluar di depan rumah,” kata Mansyur.
Saat itulah, sambungnya, dia melihat Steven baru saja berjalan di depan rumah korban menuju ke rumahnya. “Setelah saya masuk ke rumah, terdengar suara sepeda motor di depan rumah Steven. Beberapa menit kemudian, suara sepeda motor itu berangsur-angsur meninggalkan tempat tersebut,” ungkapnya.
Keterangan Mansyur membuat polisi yakin bahwa Steven memiliki keterlibatan dalam kasus ini. Atas dasar itu pula, sejumlah petugas menunggu Steven hingga kembali ke rumahnya.
Awalnya, Steven yang dibawa ke Mapolresta Makassar Barat menyangkal telah melakukan pembunuhan. Hanya saja, saat remaja yang hanya lulus SMP itu diminta membuka pakaiannya, polisi menemukan perhiasan emas diselipkan di celana dalamnya.
Perhiasan itu berupa empat buah cincin emas, empat giwang, serta sepasang anting emas. Ternyata, perhiasan emas itu adalah milik korban yang diambil usai dibunuh. Akhirnya, Steven pun menyerah dan mengakui segala perbuatannya.
Disebut Pencuri
Lalu apa motifnya? Sesuai pengakuan pelaku di Mapolresta Makassar Barat, dia menghabisi dua korbannya sendirian. Itu dilakukannya atas dasar dendam.
Menurut Steven, dia menaruh kebencian terhadap Hj Yulin karena pernah dituduh mencuri. “Saya pernah dituduh mencuri HP-nya Desember lalu,” kata Steven kepada penyidik yang melakukan pemeriksaan.
Kebencian itu dilampiaskan dengan cara membunuh secara sadis. Pembunuhan itu dilakukan saat berlangsung pemadaman bergilir di daerah tersebut.
Steven menjelaskan, dia masuk ke rumah korban melalui pintu depan sekira pukul 20.00 WITA. Saat itu, suasana sekitar rumah gelap gulita karena listrik yang padam. Beberapa menit kemudian, pelaku melihat kedua korban menyalakan lilin dan naik ke lantai dua. Saat itulah ia membuntuti dari belakang.
Pelaku lalu mengambil linggis yang berada di gudang lantai dua dan memukulkannya ke korban. Korban juga ditusuk menggunakan linggis beberapa kali. Tidak sampai di situ, leher korban pun digorok menggunakan benda tajam.
Usai menghabisi korbannya, emas milik ibu dan anak itu kemudian dilucuti. Selanjutnya kamar korban diacak-acak agar terkesan terjadi perampokan. “Selanjutnya, saya turun ke lantai satu. Saya baru keluar dari rumah itu sekitar pukul 03.00 WITA,” ungkap pelaku.
Masih kata Steven, dia berjalan menuju ke rumahnya dengan santai. Tidak berapa lama, dia menelpon Syamduddin agar dijemput di depan rumah. Syamsuddin pun datang menggunakan sepeda motor jenis Yamaha Vega. Keduanya menuju ke rumah Syamsuddin di Jl Damai, Karuwisi.
Syamsuddin yang ditemui Fajar mengaku tidak mengetahui kalau Steven saat itu baru saja membunuh. Siswa salah satu SMP di Makassar itu memang mengaku sempat melihat percikan darah di celana pelaku.
“Saya sempat menanyakan tentang celana yang ada percikan darahnya itu. Tapi, dia hanya bilang kalau itu darah ayam karena bekerja di tempat pemotongan ayam,” kata Syamsuddin.
Ibu Syamsuddin, Dg Intang yang juga ditemui membenarkan bahwa teman anaknya tersebut sempat berada di rumahnya. “Steven memang sering datang ke rumah. Namun ia sempat memperlihatkan kejanggalan malam lalu,” ujarnya.
Menurutnya, Steven lebih banyak diam. “Kalau ditanya, dia hanya bilang baik-baik saja,” ungkap Dg Intang.
Hingga malam tadi, Steven masih diinterogasi penyidik Polresta Makassar Barat. Tidak hanya Steven, beberapa saksi lainnya ikut dimintai keterangan. Mereka adalah, Syamsuddin, Dg Intang, Mansyur, serta kepala RT dan RW di sekitar rumah korban.
“Steven sudah mengakui kalau telah melakukan pembunuhan. Selain itu ditemukan pula perhiasan emas korban sebagai BB,” kata Kapolresta Makassar Barat, AKBP Evie Suoth, kemarin.
Walau demikian, Evie mengaku masih akan mengembangkan kasusnya. “Kami masih mencari motif lainnya. Siapa tahu ada pelaku lainnya yang membantu,” tandasnya.
Sementara itu, usai dilakukan autopsi, jenazah kedua korban pembunuhan itu dimakamkan di Pekuburan Dadi Jalan Lanto Dg Pasewang, Minggu siang. Dari hasil autopsi diketahui bahwa kedua korban mengalami tusukan benda tajam beberapa kali.
“Dari luka yang ada di tubuh korban, pelaku cukup sadis dalam melakukan pembunuhan itu,” kata Kasat Reskrim Polresta Makassar Barat, AKP Ronald Sumigar. (her)
|